BeritaNasionalOpini

Guru Besar UGM: Kunjungan Presiden ke Gudang Bulog Danurejo Perkuat Indikasi Ketahanan Stok Beras Nasional

Avatar photo
10
×

Guru Besar UGM: Kunjungan Presiden ke Gudang Bulog Danurejo Perkuat Indikasi Ketahanan Stok Beras Nasional

Sebarkan artikel ini

MEGATRENDNEWS.ID, YOGYAKARTA – Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM), Prof Lilik Sutiarso, menilai kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke gudang Perum Bulog Danurejo, Magelang, Jawa Tengah (18/4) merupakan langkah strategis dalam melihat secara langsung kondisi cadangan beras pemerintah sebagai salah satu indikator penting ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, kunjungan tersebut tidak sekadar agenda inspeksi, melainkan bentuk verifikasi lapangan terhadap data dan laporan yang selama ini disampaikan pemerintah. Dengan melihat langsung kondisi gudang yang penuh serta tingginya serapan beras, Presiden memperoleh gambaran faktual mengenai ketersediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Example 300x600

“Langkah Presiden ini penting karena memberikan kepastian berbasis fakta di lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum stok beras dalam posisi relatif aman, meskipun tetap perlu dicermati dinamika di berbagai wilayah,” ujar Prof Lilik, Minggu, 19 April 2026.

Ia menegaskan, di tengah dinamika global yang diwarnai ketidakpastian, kehadiran langsung Presiden di lapangan menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah berupaya menjaga kendali stabilitas terhadap sektor pangan nasional, khususnya komoditas strategis seperti beras.

Lebih lanjut, Prof Lilik juga menggarisbawahi bahwa kekuatan tersebut didukung oleh data terkini. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini telah mencapai sekitar 4,8 juta ton dan berpotensi terus bergerak meningkat menuju target 5 juta ton. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tren kinerja produksi yang positif, di mana produksi beras nasional pada 2025 tercatat mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tren ini berlanjut pada awal 2026, dengan produksi Januari sekitar 1,75 juta ton dan Februari sekitar 2,91 juta ton,meskipun masih perlu dikaji lebih lanjut dalam konteks keberlanjutan produksi dan distribusi antar wilayah.

“Kalau kita lihat kombinasi antara stok yang tinggi dan produksi yang terus meningkat, kondisi ini dapat menjadi indikasi positif bagi ketahanan pangan. Namun, hal tersebut tetap perlu dilihat secara komprehensif, termasuk aspek distribusi, aksesibilitas, dan stabilitas harga di tingkat masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi gudang yang penuh bahkan hingga membutuhkan tambahan kapasitas penyimpanan menjadi indikator nyata bahwa serapan beras sedang berjalan cukup baik, terutama pada periode panen. Menurutnya, hal tersebut didukung dengan adanya sistem keseimbangan antara produksi, distribusi, dan kebijakan yang tepat.

“Kondisi tersebut mencerminkan adanya interaksi antara peningkatan produksi, kebijakan serapan, dan pengelolaan cadangan. Namun demikian, efektivitas sistem tetap bergantung pada konsistensi kebijakan dan kesiapan infrastruktur logistik di berbagai daerah,” tegas Prof Lilik.

Ia menilai, kunjungan langsung Presiden ke lapangan dapat menjadi salah satu bentuk transparansi pemerintah dalam memastikan kondisi cadangan pangan. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan publik, meskipun evaluasi secara berkelanjutan tetap diperlukan mengingat sistem pangan bersifat dinamis dan dipengaruhi berbagai faktor.

“Selain aspek ketersediaan, ketahanan pangan juga ditentukan oleh distribusi, keterjangkauan harga, serta stabilitas pasokan di tingkat regional,“ ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *