MEGATRENDNEWS.ID, JAKARTA — Swasembada beras Indonesia kini terkonfirmasi melalui data produksi dan neraca pangan yang solid. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi nasional tahun 2025 mencapai 71,95 juta ton dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP), meningkat dari 63,51 juta ton pada 2024 atau naik 13,29 persen. Kenaikan sebesar 8,44 juta ton ini menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Jika dikonversi ke beras konsumsi, produksi sepanjang Januari–Desember 2025 diproyeksikan mencapai 34,77 juta ton. Angka tersebut telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada pada kisaran 30–31 juta ton per tahun, sehingga menghasilkan surplus produksi.
Tren peningkatan produksi berlanjut pada awal 2026. BPS mencatat potensi produksi pada Januari sebesar 3,94 juta ton, Februari 6,05 juta ton, dan Maret diperkirakan mencapai 11,14 juta ton GKP. Capaian ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi tidak bersifat sementara, tetapi didukung oleh perbaikan sistem produksi secara menyeluruh.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengumumkan capaian bersejarah Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang untuk pertama kalinya menembus angka 5.000.198 ton pada Kamis (23/4/2026). Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, khususnya pada periode bulan April.
“Alhamdulillah hari ini tanggal 23 April 2026, sekarang jam 8.55, stok beras seluruh Indonesia 5.000.198. Ini adalah pertama, tidak pernah terjadi sepanjang sejarah. Ini sejarah pertama. Inilah hasil kerja keras kita semua,” ujar Mentan Amran saat meninjau gudang beras di Karawang.
Mentan Amran menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja terstruktur dari berbagai intervensi kebijakan.
“Produksi kita meningkat signifikan dan ini bukan kebetulan. Ini hasil dari perbaikan menyeluruh dari hulu hingga hilir. Dengan tren ini, swasembada beras bukan lagi target, tetapi sudah kita capai dan kita jaga keberlanjutannya,” ujar Mentan Amran.
Capaian nasional tersebut juga sejalan dengan proyeksi lembaga internasional. Food and Agriculture Organization memperkirakan produksi beras Indonesia mencapai 35,6 juta ton pada musim tanam 2025/2026, sementara United States Department of Agriculture mencatat 34,6 juta ton. Angka tersebut konsisten dengan estimasi BPS sebesar 34,77 juta ton.
Dari sisi neraca, produksi tahun 2026 diproyeksikan mencapai 34,76 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi sebesar 31,1 juta ton. Surplus sekitar 3,66 juta ton tersebut diperkuat oleh carry over stock tahun 2025 sebesar 12,4 juta ton, sehingga stok beras nasional diperkirakan mencapai 16,1 juta ton pada akhir 2026.
*Kerja Kolektif: Dari Petani hingga Kebijakan*
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alam Syah, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja bersama yang didukung kebijakan yang tepat sasaran.
“Swasembada ini adalah hasil kerja bersama. Petani, penyuluh, dan pemerintah bergerak dalam satu arah. Ketika pupuk tersedia, alsintan dimanfaatkan, dan air terjamin, maka produksi meningkat. Data yang ada hari ini adalah hasil nyata dari proses tersebut,” ujarnya di Jakarta (22/4).
Ia menjelaskan bahwa peningkatan produksi didorong oleh perbaikan akses pupuk bersubsidi, percepatan mekanisasi pertanian, optimalisasi irigasi, serta penggunaan benih unggul bersertifikat.
“Pemerintah memastikan pupuk subsidi tetap menjadi prioritas dengan harga yang lebih terjangkau bagi petani. Di saat yang sama, mekanisasi pertanian terus diperkuat untuk mempercepat tanam, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi kehilangan hasil. Ini yang mendorong lonjakan produksi secara nyata di lapangan,” jelasnya.
Data BPS menunjukkan bahwa strategi peningkatan produksi melalui perluasan areal tanam, penguatan irigasi, serta dukungan sarana produksi telah memberikan hasil nyata. Kenaikan produksi 8,44 juta ton GKP dalam satu tahun adalah capaian yang terukur.
“Ke depan, seluruh dukungan infrastruktur dan kebijakan akan terus diperkuat untuk menjaga keberlanjutan swasembada,” jelasnya.
Menurutnya, reformasi di sektor hulu tersebut merupakan fondasi jangka panjang.
“Ini bukan capaian satu tahun, tetapi fondasi yang memastikan produksi tetap tinggi, stabil, dan berkelanjutan,” pungkasnya.







