BeritaNasional

Rambu Tuka: Tradisi dan Ketahanan Pangan di Toraja

Avatar photo
9
×

Rambu Tuka: Tradisi dan Ketahanan Pangan di Toraja

Sebarkan artikel ini
Pemberian penghargaan dari Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan, Sinatriyo Danuhadiningrat, SS kepada Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong.( adj).

MEGATRENDNEWS.ID, TORAJA UTARA — Tradisi Rambu Tuka merupakan salah satu ritual masyarakat agraris Toraja dalam proses rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Dalam bahasa Toraja kata Rambu berarti asap atau sinar, dan Tuka berarti naik. Ritual Rambu Tuka adalah asap persembahan yang membumbung ke atas saat matahari beranjak naik, saat pagi sampai tengah hari, melambangkan upacara suka cita, syukur, dan permohonan berkat.

Prof. Dr. Dina Gasong selaku Ketua Pelaksana Seminar Kebudayaan Jejak Ritual Rambu Tuka mengatakan bahwa ritus sukacita tradisional berfungsi sebagai instrumen penguatan struktur sosial, redistribusi ekonomi, dan pelestarian ekologis jangka panjang.

Seminar yang diadakan pada Kamis, (18/6/2026) di aula PAK Rumah Harapan Tagari, Rantepao itu dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan, Sinatriyo Danuhadiningrat, SS dan Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong.

“Konstruksi tradisi Rambu Tuka bertumpu pada dua pilar utama, yaitu adaptasi terhadap zaman dan relevansi terhadap kebutuhan kontemporer komunitas,” ungkap Ismail Banne Ringgi, M.Th selaku pemateri yang didampingi dua tokoh adat Toraja Utara.

Menurut Ismail bahwa ritual Rambu Tuka sejatinya merupakan instrumen penguatan struktur sosial Toraja yang sangat vital. Ritus ini membingkai sukacita dalam dimensi komunal yang menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak boleh dinikmati secara individu atau mendahulukan egonya, kebahagiaan itu harus memancar, didistribusikan, dan memberi manfaat konkret bagi seluruh komunitas atau wilayah adat yang dikenal dengan istilah Tondok.

Pada seminar kebudayaan Jejak Ritual Rambu Tuka ini, Bupati Toraja Utara memberi apresiasi dan mendukung penuh kegiatan kebudayaan yang berefek pada sektor pariwisata serta peningkatan ekonomi di wilayah Toraja Utara.

Selain hal tersebut juga diharapkan kerja sama yang semakin baik dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan dan pihak-pihak lain untuk terus merawat, melestarikan, dan meningkatkan apresiasi terhadap ritus-ritus budaya di Toraja Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *